sirah Nabawi

【 KISAH SEDIH RASULULLAH ﷺ – BAB 1 】

`"Kelahiran Sang Cahaya di Tengah Kegelapan"`

 `Sebelum Kelahiran Rasulullah ﷺ`

Jauh sebelum Rasulullah ﷺ lahir, kondisi dunia saat itu penuh dengan kegelapan. Di tanah Arab, masyarakat hidup dalam kebodohan *(jahiliyah). Mereka menyembah berhala, menindas kaum lemah, dan memperlakukan wanita dengan hina. Perbudakan merajalela, dan peperangan antar suku terjadi tanpa henti hanya karena masalah sepele.

Di Makkah, ada sebuah rumah suci bernama Ka’bah, yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail. Namun, seiring waktu, orang-orang Quraisy malah memenuhi Ka’bah dengan ratusan berhala. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala itu bisa memberi mereka keberkahan.

Di tengah masyarakat yang rusak ini, ada satu keluarga yang masih memegang teguh ajaran tauhid Nabi Ibrahim, yaitu keluarga Bani Hasyim. Salah satu keturunannya adalah Abdullah bin Abdul Muthalib, seorang pemuda tampan dan baik hati.

 `Abdullah dan Aminah: Orang Tua Rasulullah ﷺ`

Abdullah bin Abdul Muthalib adalah putra dari Abdul Muthalib, seorang pemimpin Quraisy yang sangat dihormati. Abdullah dikenal sebagai pemuda yang rendah hati dan jujur. Ayahnya sangat menyayanginya karena wajahnya bersinar terang dan hatinya bersih.

Suatu hari, Abdul Muthalib berkata kepada putranya,

"Wahai anakku, sudah saatnya engkau menikah. Aku telah memilih seorang wanita baik dari keturunan yang mulia untukmu. Namanya Aminah binti Wahab."

Aminah binti Wahab berasal dari keluarga terpandang di suku Quraisy. Dia dikenal sebagai wanita yang lembut, cerdas, dan memiliki hati yang suci.

Setelah pernikahan, Abdullah dan Aminah hidup dalam kebahagiaan. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama…

`Wafatnya Abdullah, Sang Ayah yang Tidak Pernah Bertemu Anaknya`

Tak lama setelah menikah, Abdullah harus pergi dalam perjalanan dagang ke Syam. Aminah melepas kepergian suaminya dengan penuh harapan. Namun, di tengah perjalanan pulang, Abdullah jatuh sakit di Madinah.

Kabar buruk itu sampai ke Makkah…

Seorang utusan datang menemui Abdul Muthalib dengan wajah sedih.

"Wahai pemimpin Quraisy… Aku membawa kabar duka… Abdullah bin Abdul Muthalib telah wafat di Madinah."

Mendengar kabar itu, Abdul Muthalib terdiam. Air matanya mengalir. Ia tahu betapa berharganya Abdullah baginya.

Di rumah, Aminah juga menerima kabar yang sama. Wanita itu terduduk lemas. Tangannya gemetar saat memegang perutnya yang sudah mulai membesar.

"Anakku… kau bahkan belum lahir ke dunia ini, tapi ayahmu telah tiada…"

Air mata mengalir di pipinya. Meski hatinya hancur, Aminah tetap tabah. Ia tahu bahwa anak yang dikandungnya bukan anak biasa.

 `Kelahiran Sang Nabi ﷺ di Tahun Gajah`

Pada tahun 571 Masehi, di bulan Rabi’ul Awal, terjadi peristiwa besar yang mengguncang Makkah. Seorang raja dari Yaman bernama Abrahah datang dengan pasukan gajah raksasa untuk menghancurkan Ka’bah.

Orang-orang Quraisy ketakutan. Mereka tidak punya pasukan yang cukup untuk melawan tentara Abrahah. Namun, Abdul Muthalib tetap tenang. Dengan penuh keyakinan, ia berkata,

"Ka’bah ini milik Allah. Dialah yang akan melindunginya."

Dan benar saja, saat Abrahah dan pasukannya mendekati Ka’bah, tiba-tiba langit menjadi gelap. Burung-burung kecil (Ababil) muncul dari langit, membawa batu-batu panas yang kemudian dijatuhkan ke pasukan Abrahah.

Setiap batu yang jatuh mengenai pasukan Abrahah langsung membakar tubuh mereka. Dalam sekejap, pasukan gajah itu hancur. Abrahah sendiri melarikan diri dengan tubuh penuh luka, hingga akhirnya mati dalam keadaan mengenaskan.

Peristiwa ini membuat semua orang tercengang. Mereka menyadari bahwa Allah telah melindungi rumah-Nya. Tahun itu kemudian dikenal sebagai Tahun Gajah, tahun yang sama saat Rasulullah ﷺ lahir.

`Malam yang Penuh Cahaya`

Pada tanggal 12 Rabi’ul Awal, menjelang fajar, di sebuah rumah sederhana di Makkah, Aminah binti Wahab merasakan sakit yang luar biasa.

Malam itu begitu tenang, tapi di langit, ada cahaya terang yang bersinar. Seolah-olah langit sedang bersuka cita.

Di dalam rumah, Aminah menggenggam erat tangannya. Ia merasakan sesuatu yang berbeda. Hatinya penuh dengan ketenangan, seolah ada kekuatan besar yang menyertainya.

"Anakku… sebentar lagi kau akan lahir ke dunia ini."

Beberapa wanita dari Bani Hasyim menemani Aminah dalam proses persalinan. Salah satu dari mereka berkata,

"Aminah, bersabarlah… sebentar lagi semuanya akan selesai."

Tiba-tiba, ruangan itu dipenuhi oleh cahaya yang begitu indah. Seakan-akan, bintang-bintang turun ke bumi.

Dan di saat itu…

Lahirlah bayi yang kelak akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Seorang bayi laki-laki mungil, dengan wajah bercahaya, menangis untuk pertama kalinya.

Saat melihat putranya, air mata Aminah mengalir. Ia tersenyum lemah dan berbisik,

"Engkau adalah cahaya bagi dunia ini, wahai Muhammad…"

Para wanita yang membantu persalinan terkejut. Mereka berkata,

"Subhanallah… bayi ini begitu bercahaya! Lihatlah wajahnya, begitu bersih dan bercahaya!"

 `Suasana Langit dan Mimpi Aminah`

Di langit, sesuatu yang luar biasa terjadi. Pada malam itu, bintang-bintang bersinar lebih terang dari biasanya. Beberapa orang bijak di berbagai negeri melihat tanda-tanda di langit bahwa seorang pemimpin besar telah lahir.

Sebelum melahirkan, Aminah juga pernah bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat cahaya keluar dari tubuhnya, menerangi seluruh Jazirah Arab.

"Aku melihat cahaya keluar dariku, menyinari negeri Syam…"

Mimpi itu adalah pertanda bahwa anak yang dikandungnya akan membawa cahaya Islam ke seluruh penjuru dunia.

 `Abdul Muthalib dan Nama Muhammad ﷺ`

Ketika Abdul Muthalib mendengar kelahiran cucunya, ia langsung datang ke rumah Aminah. Dengan penuh kasih sayang, ia menggendong bayi itu dan membawanya ke dalam Ka’bah.

Di depan Ka’bah, Abdul Muthalib berdoa,

"Ya Allah, aku bersyukur atas kelahiran cucuku ini. Aku beri dia nama Muhammad, agar dia menjadi orang yang terpuji di langit dan bumi."

Orang-orang Quraisy heran dengan nama itu, karena nama Muhammad jarang digunakan di kalangan mereka.

Salah satu kerabat bertanya,

"Mengapa kau menamainya Muhammad?"

Abdul Muthalib tersenyum dan berkata,

"Aku berharap dia akan menjadi manusia yang terpuji di langit dan di bumi."

Dan begitulah, Muhammad ﷺ lahir ke dunia, membawa cahaya yang akan menerangi seluruh umat manusia.

➡ Bab Selanjutnya: Bagaimana kehidupan Rasulullah ﷺ setelah lahir? Bagaimana ujian pertama yang harus beliau hadapi sejak kecil?

📚 Sumber Rujukan:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyah
2. Ibnu Sa’d, At-Thabaqat al-Kubra
3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah
4. HR. Bukhari

[ Kisah Kisah Seputar Islam ]

Postingan populer dari blog ini

Biodata Nabi dan Rasul

Makalah Tesis